Monday, November 26, 2007

FOKUS

KNOWLEDGE, THE POWER OF DREAMS

Artinya : “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak mereka ketahui.” (QS. Al-Alaq : 1-5)

Jika antum antunna perhatikan ayat di atas yang merupakan wahyu pertama, maka terlihat betapa besar perhatian Allah pada manusia. Kata “insan” dalam wahyu pertama tersebut sampai dilafalkan 2 kali. Jujur saja, seharusnya tidak ada seorang muslimpun yang bodoh. Sebab perintah yang datang pertama kali kepada Muhammad adalah “membaca”. Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa wujud perhatian Allah pada manusia adalah ilmu yang disebarkan-Nya di muka bumi untuk dicari. Sebenarnya berbicara tentang ilmu tidak lepas dari peran pikiran manusia itu sendiri. Ilmu-pikiran-belajar, terserah bagaimana antum antunna mau membuat hubungannya. Dan ilmu itu sendiri ada berbagai macam jenisnya. (Kalo yang ini, rasanya hampir mustahil untuk disebutin satu persatu)
Nah, untuk menggapai ilmu itu sendiri, Allah telah memberi “tool”-nya kepada manusia yaitu akal pikiran. Hanya manusia yang diberi “tool” ini. Makhluk lain tidak. Setelah itu tindakan untuk menggapai ilmu adalah dengan belajar. Belajar tidak harus dengan membaca namun kebanyakan orang menganut dogma bahwa belajar adalah membaca. Bukankah qta juga bisa belajar dari pengalaman yang merupakan guru terbaik qta?
Sesuai hal yang tersurat dalam ayat di atas (membaca), potensi ini besar artinya bagi manusia. Manusia akan mendapat ilmu dari potensinya sehingga bisa berkembang maju, membangun peradaban dan memakmurkan bumi. Tanpa ilmu, manusia hanya akan menjalani hidup berdasarkan insting saja.
Untuk itulah Allah menurunkan Al Qur’an sebagai sumber ilmu. Dan Al Qur’an pula yang menjadi kerangka penguat dan pemisah antara ilmu mana yang diridhoi Allah untuk dikembangkan. Karenanya salah besar jika ada yang menganggap Al Qur’an sebagai penghambat gerak kehidupan dan kreativitas manusia.
Agama sama sekali tidak membelenggu kebebasan berpikir. Sebab dengan begitu justru memunculkan ide-ide atau ilmu-ilmu baru. Bayangkan saja jika Allah membelenggu kebebasan berpikir, agama tak pernah berkembang dan manusia tetap bodoh. Walau ilmu manusia hanya setetes dari ilmu Allah yang seluas samudra namun pikiran manusia diberi wewenang di urutan ketiga atau dalam bahasa arabnya,”Ijtihad.” Banyak penetapan ilmu fiqih, aqidah, akhlak dan ilmu tafsir merupakan hasil “Ijtihad.” (Kita harus ucapkan Alhamdulillah untuk satu ini) Selain itu ada ijma’, maslahah mursalah, bahkan madzhab pemikiran. Tidak ada satu ajaranpun yang tak boleh dijamah akal. Justru dengan cara ini hukum syari’at terus berkembang.
Para ilmuwan, filsuf dan imam besar adalah contoh nyata bahwa ilmu adalah hal mutlak yang harus ada pada pribadi manusia. Orang yang tidak tahu ilmu atau sedikit ilmu, ia hanya semakin jauh dari Allah. Justru dari ilmu itulah manusia mengenal ALLAH. Ilmuwan masa lampau bahkan lebih tangguh keagamaan mereka dibanding para kaum agamis. Mereka kenal benar dengan ALLAH melalui hasil temuan mereka. Tak ada yang menafikan kekuasaan ALLAH terhadap ilmu yang mereka miliki.
Singkatnya, semakin tinggi ilmu seseorang seyogianya semakin tunduklah mereka pada ALLAH. Antum antunna mesti pernah dengar denngan slogan “knowledge is power”.Jika antum antuna pahami maknanya maka slogan itu adalah arti terdalam sebuah ilmu.Jika dicermati lebih dalam lagi, slogan ini sebenarnya menjadi jawaban mengapa bangsa lain khususnya Eropa menjadi bangsa yang amat maju dan mengapa umat islam zaman Dinasti Ummayyah maupun Dinasti Abbasiyah jauh lebih berkembang daripada umat islam sekarang.
Jadi, jelaslah semua betapa berarti ilmu bagi setiap insan. Ilmu yang membuat manusia itu ‘menjadi manusia’ dan dengan ilmu itu pula mereka (manusia.red) mengenal siapa Pencipta mereka.
Terakhir, Antum antunna dan sobat KARISMA semua kagak perlu khawatir bagaimana dengan ilmu yang sudah diperoleh di SMA kita yang tercinta ini. “Untuk apa?” mungkin itu yang pernah terpikir di benak kita. Pada disiplin ilmu tertentu mungkin telah antum antuna ketahui jawabnya. Pada ilmu-ilmu yang lain kita cuma bisa menerka-nerka. Tapi, yakinlah bahwa entah suatu saat ilmu yang kita peroleh itu bisa kita aplikasikan walau sekali saja.

AKHLAKUL KARIMAH

Sobat karisma, tema qta kali ini khan ilmu….So, qta harus taw yang namanya ilmu.Ilmu itu adalah sesuatu petunjuk untuk melakukan sesuatu.
Cara qta untuk mendapat ilmu adalah dengan belajar. Ada beberapa penyebab terganggunya qta dalam belajar, a.l:
· Memikirkan pacar dalam belajar.
· Dalam keadaan sakit
· Kurang konsentrasi
· Tidak berniat belajar, tetapi dalam keadaan menerima pelajaran.
· Suasana yang tidak kondusif
· Pengajar yang kurang professional ketika mengajar
Untuk meminimalisir gangguan tersebut, maka diperlukan beberapa cara:
Ø Awalilah belajar dengan niat, tanpa niat pelajaran sulit ditangkap.
Ø Cari suasana yang kondusif untuk belajar
Ø Jaga kesehatan jasmani n rohani
Ø Cobalah untuk berkonsentrasi
Di dalam AL-QUR’AN, ilmu yang bermanfaat adalah amalan yang gak kan terputus walau kita sudah mati. Tanpa ilmu kita tidak kan bisa menjalani hidup dengan baik. Seprti pepatah,”Ilmu adalah pelita hidup”
Belajar adalah suatu kewjiban bagi seorang manusia, terutamabagi pelajar. Belajar dan menuntut ilmu adalh suatu bekal atau pendorong kita untuk meniti masa depan. Adapun kiat-kiat untuk sukses dalam belajar bagi siswa antara lain:
§ Dahului niat dan membaca do’a sebelum belajar
§ Carilah motivator untuk meningkatkan belajar kita
§ Kalau bisa tinggalkan yang namanya “pacaran”
§ Cari teman belajar yang bisa diajak belajar bersama
§ Berusahalah membagi waktu antara belajar dengan kegiatan yang lain.

Teladan dan hikmah

Abu Hurairah dan Pencuri

Sekilas judul di atas gak ada koneknya dengan pertanyaan berikut (tapi jangan terlalu cepat berkomentar). Ada yang tahu rahasia atawa manfaat dari ayat kursi??? Alhamdulillah jika ada yang sudah tau. Kalau belum tau, dengerin nih kisahnya.Diceritakan, bahwa pada suatu hari Abu Hurairah mendapat amanat dari Rasulullah SAW untuk menjaga gudang zakat di bulan suci Ramadhan. Abu Hurairah dengan sigap menyanggupi tugas itu. Ia pun bersiap-siap.
Malam hari, tanpa diduga oleh Abu Hurairah ada pencuri berhasil masuk ke gudang. Mengetahui hal ini, Abu Hurairah bersiap-siap menangkap pencuri ulung itu. Karena kesiap-siagaannya, ia pun berhasil menangkap pencuri itu. “Akan kulaporkan kau pada Rasulullah.” Ancam Abu Hurairah.Mendengar ancaman Abu Hurairah, pencuri itu pun takut sambil merengek minta belas kasihan. “Aku ini orang miskin, banyak anggota keluarga yang menjadi beban tanggunganku. Sementara ini aku sangat membutuhkan makanan untuk mereka.”
Karena merasa kasihan, lalu pencuri itu dilepaskannya. Keesokan harinya dia laporkan kejadian semalam pada Rasulllah yang kemudian menanyainya,”Apa yang dilakukan tawananmu semalam,hai Abu Hurairah??”. Dijawab oleh Abu Hurairah,”Ia mengeluh Yaa Rasulullah, ia berkata kalau dirinya keluarga miskin dan keluarga yang harus ditanggungnya sangat butuh makanan. Dan karena aku merasa kasihan, aku membebaskannya.”
“Sesungguhnya dia itu pembohong, lihatlah nanti malam dia akan kembali”,kata Nabi. Karena itu, penjagaan pun lebih ditingkatkan lagi. Dan benarlah kata Nabi, pencuri itu kembali beraksi. Akan tetapi kali ini pencuri ditangkap lagi oleh Abu Hurairah sendiri.
“Akan kulaporkan kau pada Rasulullah”, ancam Abu Hurairah seperti malam sebelumnya. Dan sekali lagi pencuri itu pun meminta belas kasihan,”Aku ini orang miskin dan keluarga yang menjadi tanggunganku sangat butuh bahan makanan. Aku berjanji besok aku tak akan kembali lagi ke sini.”Rupanya Abu Hurairah tersentuh perasaannya mendengar keluhan pencuri itu. Lalu diampuninya, apalagi dia telah berjanji. Abu Hurairah pun kembali menceritakan kejadian semalam.Beliau pun menanyai hal yang sama seperti kemarin. Setelah mendapat jawaban yang sama, Nabi menegaskan bahwa pencuri itu berbohong dan akan kembali lagi seperti yang sudah-sudah.
Pada malam berikutnya, Abu Hurairah benar-benar waspada dan bertekad akan menawannya. Ia sungguh telah merasa geram karena dipermainkan pencuri kelas teri.Ketika malam semakin larut, tiba2 ada bayangan hitam menuju gudang zakat. Ia bergumam apa yang dikatakan Rasulullah terbukti kembali. Dengan hati-hati ia dekati pencuri itu dan ia pun berhasil menangkapnya kembali.“Kali ini kau pasti akan kulaporkan pada Rasulullah. Aku tidak mau lagi kau perdaya karena sudah dua kali kau membohongiku.”,gertak Abu Hurairah dengan tegas. Pencuri itu memohon kembali, namun sia-sia saja. Abu Hurairah teguh pada pendiriannya. Dengan putus asa sang pencuri pun berkata,”Tolonglah, engkau lepaskan aku. Nanti tuan akan saya ajari sesuatu yang sangat berharga.”
Karena tertarik pada tawaran sang pencuri, ia pun bertanya,”Sesuatu apakah yang akan kau ajarkan padaku??”.Pencuri pun menjawab,”Apabila tuan hendak tidur, maka bacalah ayat kursi. Niscaya tuan akan dijaga oleh ALLAH dan tidak ada satu setan pun yang berani mengusik tuan hingga pagi.” Akhirnya pencuri pun dilepaskannya, tampaknya naluri keilmuannya lebih menguasai jiwanya daripada nalurinya sebagai penjaga gudang.
Esok hari ia laporkan kejadian semalam pada Rasulullah. Beliau pun bertanya apa yang telah diajarkan sang pencuri pada Abu Hurairah. Ia pun menjawab,”Katanya, jikalau aku hendak tidur, maka aku disuruhnya membaca ayat kursi. Dengan begitu, ALLAH akan menjagaku sampai pagi dan tak ada setan yang berani mengusik tidurku.” Rasulullah menanggapinya seraya berkata,”Pencuri itu telah berkata benar, meskipun ia sebenarnya seorang pembohong.” Lalu lanjut Beliau,”Tahukah kau wahai Abu Hurairah, siapa sebenarnya sosok pencuri yang kau tangkap tiap malam itu??”
Abu Hurairah yang memang tak tahu menahu tentang hal itu balik bertanya,”Siapa wahai Rasulullah??”. Rasulullah menerangkan,”Dia adalah iblis yang menyerupai wujud seorang laki-laki.”